KH. Moh. Ilyas Ruhiat: Ulama Penerus Tradisi dan Pemimpin Organisasi

Oleh: Muhammad Fikry Maulana R

KH. Moch. Ilyas Ruhiat merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU) setelah Reformasi dan berperan sebagai penerus serta pengembangan keilmuan di pondok pesantren Cipasung. Sebagai anak dari pendiri pondok pesantren Cipasung, KH. Ruhiat, beliau menghadapi tugas ganda: mempertahankan tradisi salafiyah pesantren yang kuat dan sekaligus memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia, sebuah amanah yang ia laksanakan dengan penuh kebijaksanaan dan kesederhanaan.

Menjaga Tradisi di Cipasung

Langkah pendidikan awal KH. Moch. Ilyas Ruhiat dimulai di Cipasung di bawah bimbingan ayahnya. Di tempat ini, ia memperoleh pengetahuan agama yang sangat mendalam, terutama dalam penguasaan kitab kuning. Dia terkenal sebagai seorang ulama yang memiliki penguasaan yang kuat dalam ilmu alat, yaitu Nahwu dan Sharaf, serta sangat mendalami Fiqih dan Ushul Fiqih.

Setelah ayahnya KH. Ruhiat meninggal, KH. Moch. Ilyas Ruhiat mengambil alih kepemimpinan di Cipasung. Beliau tidak hanya melanjutkan model pendidikan integratif yang telah dirintis oleh ayahnya yang menggabungkan sekolah formal dengan pengajaran pesantren tetapi juga meningkatkan sistem tersebut. Di bawah kepemimpinan beliau, Cipasung semakin diperkuat sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan alumni yang tidak hanya beriman dalam praktik religius, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual dan profesional yang tinggi.

Puncak Kepemimpinan di Nahdlatul Ulama

Peran KH. Moch. Ilyas Ruhiat mencapai puncak tertingginya di Nahdlatul Ulama. Dia menjabat sebagai Rais Aam Syuriah PBNU (Pimpinan Tertinggi Dewan Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dari tahun 1992 hingga 1999.

Jabatan ini sangat penting, terutama karena kepemimpinan beliau berlangsung pada masa-masa krusial dalam sejarah Indonesia, yaitu saat transisi Reformasi (1998). Sebagai Rais Aam, beliau memiliki otoritas tertinggi terkait masalah agama dan ideologi NU, berfungsi sebagai penopang yang menjaga stabilitas organisasi di tengah ketidakpastian politik.

Perannya sebagai Rais Aam mengungkapkan dua poin penting:

  • Pengakuan Ilmu: Posisi tersebut merupakan pengakuan dari para ulama di seluruh Indonesia atas pemahaman yang mendalam, sikap rendah hati, dan kebijaksanaan beliau dalam mengelola organisasi.
  • Juru Damai: Beliau dikenal sebagai sosok yang tawadhu’ dan terbuka. Di tengah situasi politik yang terpecah, beliau berhasil menyatukan berbagai kelompok dan aliran dalam tubuh NU.

Figur Ulama yang Sederhana

Walaupun menjabat posisi tertinggi dalam NU, KH. Moch. Ilyas Ruhiat dikenang karena kesederhanaan dan kerendahan hati yang beliau miliki. Ia senantiasa menekankan pentingnya menjaga akhlak yang baik dan menghindari kemewahan duniawi.

“KH. Moch. Ilyas Ruhiat adalah contoh ulama yang tenang. Tegas dalam prinsip agama, tetapi fleksibel dalam bersosialisasi dan berorganisasi.”

Beliau merupakan seorang ulama yang menekankan perlunya kembali kepada tradisi ulama salaf sebagai solusi untuk berbagai masalah kontemporer. Dalam setiap keputusan yang diambil organisasi, ia selalu merujuk pada kitab kuning dan hasil bahtsul masa’il, yang menjadi ciri khas NU.

Jejak Kepemimpinan dan Teladan Berharga

KH. Moh. Ilyas Ruhiat meninggalkan warisan kepemimpinan yang sangat berarti. Legasi beliau tidak hanya terlihat dari perkembangan fisik Pondok Pesantren Cipasung, tetapi yang lebih penting adalah gaya kepemimpinan yang berintegritas dan didasari oleh ilmu yang mendalam.

Ia berhasil menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam organisasi keagamaan harus didasarkan pada pengetahuan agama yang kuat, bukan hanya pada ketenaran atau kemampuan dalam politik. KH. Moch. Ilyas Ruhiat merupakan contoh dari konsistensi; ia mampu menjaga karakter keilmuan tradisi salaf Cipasung meskipun harus menghadapi berbagai dinamika politik tingkat nasional.

Kisah hidupnya memberi wawasan bahwa kepemimpinan yang berhasil terutama di tengah berbagai tantangan zaman memerlukan kombinasi antara kebijaksanaan praktis (organisasi dan masyarakat) dan kesucian jiwa (spiritual dan pengetahuan). Ia adalah penghubung yang sukses antara tradisi keilmuan Cipasung dengan dinamika organisasi serta politik di Indonesia yang modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *