Penulis : Muhammad Fikry Maulana R
Ketika angin waktu perlahan membawa kita menuju akhir Jumadil Akhir, akan terlihat di tepi kalender kita sebuah hilal yang memberikan ketenangan bagi jiwa yang merindukan Tuhannya. Ia adalah bulan Rajab. Bulan yang oleh nenek moyang kita dahulu disebut sebagai bulan “tuli”, bukan karena ia tidak mampu mendengar, melainkan karena di dalamnya kegaduhan peperangan dan suara denting senjata harus dihentikan untuk mengagungkan kesuciannya.
Kebijaksanaan Bulan Haram
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan dalam ketetapan-Nya yang tidak tergoyahkan, bahwa di antara dua belas bulan, terdapat empat bulan yang Dia angkat martabatnya. Sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Surah At-Taubah ayat 36:
Sungguh, jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan. . . termasuk di dalamnya empat bulan yang haram. Demikianlah (aturan) agama yang benar, maka janganlah kamu menyakiti dirimu sendiri dalam bulan yang empat tersebut. . .
Bulan Rajab merupakan salah satu di antaranya. Oleh karena itu, kita berada di sini, di ambang awal bulan yang mulia. Marilah kita tidak mencemari lembaran putih ini dengan dosa, dan sebaiknya kita tidak menyakiti diri kita sendiri dengan mengikuti dorongan nafsu. Oleh karena itu, jika dalam bulan yang penuh berkah ini kita tetap senang melakukan pengkhianatan dan menyimpan rasa iri, di manakah lagi martabat kita sebagai hambanya di hadapan Sang Pencipta?
Rajab sebagai Tempat Pertumbuhan
Saudaraku, hidup ini seperti seorang petani yang akan pergi ke ladang. Para cendekiawan kita yang bijaksana telah memberikan contoh yang sangat menawan. Bulan Rajab merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk menanam biji. Benih apa yang kita tanam? Yaitu benih penyesalan, benih permohonan ampun, dan benih semangat untuk melakukan perbaikan diri.
Apabila benih tidak ditanam pada bulan Rajab, dan tidak pula disiram dengan rasa taat pada bulan Sya’ban, apakah mungkin kita mengharapkan untuk memeroleh hasil yang baik di bulan Ramadan mendatang? Sesungguhnya, keberhasilan Ramadan dimulai sejak langkah pertama kita memasuki bulan Rajab.
Mengenang peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Pada bulan ini, sejarah mencatat sebuah perjalanan spiritual yang sangat istimewa dalam perjalanan umat manusia. Perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melintasi tujuh lapisan langit menuju Sidratul Muntaha. Apa yang Beliau bawa sebagai oleh-oleh untuk kita? Tidak lain adalah salat.
Oleh karena itu, menyambut bulan Rajab berarti juga memperbaiki cara kita bersujud. Apabila selama ini salat kita hanya sekadar tindakan fisik yang kosong, maka pada bulan Rajab ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan makna dalam salat tersebut. Biarkanlah salat kita berfungsi sebagai “Mi’raj” bagi jiwa kita agar dapat melambung tinggi, meninggalkan segala hal yang rendah di dunia menuju kehadiran Allah Yang Maha Agung.
Mari kita angkat tangan ke langit yang cerah, dengan hati yang penuh ketulusan, semoga Tuhan memberikan rahmat-Nya kepada kita.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, serta panjangkanlah umur kami agar kami dapat menikmati keindahan bulan Ramadan.
Selamat datang, wahai Rajab. Selamat datang bulan yang penuh keberkahan dari Allah. Izinkanlah kami bersujud di hadapan-Mu, membersihkan wajah dengan air mata pertobatan, sebelum kami pantas menyambut bulan Ramadan yang mulia.
