Potret Kemenangan Sunyi Santri Cipasung dalam Wisuda Mutun

Cipasung selalu punya caranya sendiri untuk menyimpan cerita. Di antara udara pagi yang masih basah dan derap langkah santri yang tak pernah habis, pesantren ini seakan berbisik pelan kepada siapa pun yang datang. Bahwa di sini, setiap huruf yang dibaca adalah doa yang tumbuh. Setiap halaman yng disimak adalah perjalanan panjang yang lahir dari kesabaran. Itulah wajah Cipasung yang tak pernah lekang, tempat di mana ilmu mengalir seperti sungai yang tak letih menuju muaranya.

Pada Sabtu itu, 22 November 2025, Asrama Nugraha lebih ramai dari biasanya. Ada harap yang diletakkan rapi di antara barisan sandal di depan Madrasah Pesantren. Tujuh puluh santri berdiri dengan hati yang berdebar, membawa empat bulan perjalanan menghafal yang tak selalumulus. Mereka menempuh perjalajan menghafal Tuhfatul Athfal dan Tashrifan tiga puluh sembilan bab, lengkap dengan ciri dan makna yang mengikatnya. Semua itu ditasmi, diuji kembali, seolah untuk memastikan bahwa setiap bait telah menyatu dengan napas. Wisuda diadakan sederhana, seolah menjadi tanda bahwa kesungguhan tetap menemukan caranya untuk dirayakan.

Keesokan paginya, Asrama Al Marwah dan Asshafa menyambung cerita yang sama. Tiga bulan lamanya para santriah Al Marwah berjuang menaklukkan Tuhfatul Athfal, Jurumiyah dan Imrithi. Empat puluh tiga nama akhirnya diumumkan dalam suasana yang membuat siapa pun ingin menahan napas. Seperti ada cahaya kecil yang berkedip di mata para guru, saat satu per satu santriah ditasmi di hadapan orangtua dan tamu undangan. Di sisi lain, Asrama Asshafa tidak kalah lirih bahagianya. Tiga belas santiah menyelesaikan Tuhfatul Athfal. Sembilan menyelesaikan Jurumiyah. Sembilan lainnya menamatkan Imrithi. Angka yang tampak kecil, tetapi di baliknya tersimpan malam-malam panjang yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun selain kepda Tuhan.

Lalu Selasa, 25 November, Raudhatul Banat I datang sebagai penutup rangkaian itu. Mereka telah ditasmi lebih awal, tepatnua pada tanggal 20. Dua puluh enam santriah menyelesaikan Tuhfatul Athfal. Tiga belas menguasai Jurumiyah. Sstu orang menamatkan Maqsud. Satu lagi menamatkan Imrithi. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat udara pagi di pesantren dipenuhi rasa syukur yang pelan. Rasa syukur yang membuat siapa pun yang menyaksikan tahu, bahwa ilmu bukan hanya tentang menghafal. Ia adalah soal menang. Menang menaklukkan diri sendiri.

Program wisuda hifdz mutun ini adalah agenda tahunan di beberapa Asrama Pondok Pesantren Cipasung. Namun setiap tahun, rasanya tidak pernah sama. Setiap wajah membawa ceritanya masing-masing. Setiap orang tua yang hadir membawa harapan yang hampir selalu lebih besar dari dirinya. Mereka tahu pengorbanan mereka tak mungkin pernah bisa terbayar, tetapi melihat anaknya berdiri tegak di hadapan guru, membacakan bait demi bait, rasanya sydah lebih dari cukup. Ada bangga yang tumbuh tanpa perlu diumumkan. Ada bahagia yang mekar tanpa perlu dipamerkan.

Pada akhirya, semua ini bukan hanya tentang bait yang berhasil dihafal. Bukan pula tentang jumlah wisudawan yang diumumkan. Ini tentang perjalanan batin para santri yang diam-diam belajar menjadi manusia. Tentang keberanian mereka menghadapi lelah. Tentang keyakinan yang menggiring mereka untuk tetap bertahan. Dan Pondok Pesantren Cipasung, dengan segala kesederhanaannya, menjadi saksi bahwa ilmu itu akan selalu menemukan rumahnya. Kadang di antara lantai Dome dan Madrasah yang dingin. Kadang di asrama yang penuh dengan suara riauh hafalan. Kadang juga, di dada seorang santri yang belajar mencintai huruf-huruf Tuhan dengan caranya sendiri. Wallahu a’lam.[]

Penulis : Akmal Auri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *