Tasikmalaya, 27 November 2025 – Suasana Haru dan Penuh Khidmat menyelimuti Aula Dome Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, kamis malam. Ribuan Santri, Masyaikh, dan Masyarakat berkumpul mengenang 100 hari wafatnya Almarhum Almaghfurlah KH. Koko Komarudin Ruhiat.
Acara terasa Istimewa karena dihadiri oleh Syeikh Al-Azhar Ahmad Muhammad Mabruk, dan wakil ketua Badan Gizi Nasional Irjen. Pol. Soni Sonjaya, S.I.K, sekaligus launching program “Cipasung Rumah Pangan”, serta diisi Mauizdoh Hasanah oleh pengasuh ponpes Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A.
Momentum Menyongsong Satu Abad
Lantunan Tahlil, Doa, Tawassul, dan Shalawat bergema Setelah Shalat Isya di Aula Dome. Gus Deni Sagara selaku perwakilan dari keluarga almarhum, menyampaikan bahwa acara ini bukan sekedar mengenang kepergian sang ayahanda, namun juga momentum menyongsong satu abad pesantren cipasung.
“Semoga keberkahan, kesolehan, dan kesabaran beliau bisa menetes sedikit demi sedikit kepada saya, keluarga, para santri dan umumnya masyarakat yang hadir supaya bisa meneruskan dan mencontoh perjuangannya”. Ujar Gus Deni.
Dorongan Menjadi Santripreneur
Launching program “Cipasung Rumah Pangan” diapresiasi dan didukung penuh Oleh wakil ketua Badan Gizi Nasional, Irjen. Pol. Soni Sonjaya, S.I.K. Dalam Sambutannya, Soni tidak hanya meresmikan, tetapi menyarankan agar program ini dikembangkan lebih luas menjadi basis kemandirian ekonomi santri.
“Oleh karena itu saya mendukung peluncuran kampung pangan, tapi saya sarankan tambah dengan santripreneur,” ujar Soni dihadapan Jamaah.
Ia menekankan, santri dituntut tidak hanya saleh secara ritual, tetapi berdaya secara ekonomi.
“Santri hapal Al-Qur’an itu luar biasa, tetapi kalau bisa memproduksi itu jauh lebih luar biasa”, tambahnnya, disambut dengan tepuk tangan meriah dari para jamaah.
Lebih lanjut, Soni mengarahkan mengenai pemanfaatan lahan kosong di lingkungan pesantren. Ia menerangkan bahwa di pesantren harus ditanam tanaman seperti hidroponik di sekitar halaman asrama. menurutnya, setiap lahan kosong dan halaman asrama memiliki potensi untuk menghasilkan sumber pangan bergizi.
Pesantren Sebagai Benteng Negara
Semangat Nasionalisme sangat terasa Ketika Prof, Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A, menyampaikan mauizhoh hasanahnya. Di hadapan jamaah, beliau mengulas Kembali sejarah benang merah Panjang peran pesantren di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa pesantren sebagai benteng pertahanan negara.
“Pesantren merupakan sentral Gerakan dan motivasi yang disampaikan kepada masyarakat, agar masyarakat dapat memahami bahwa penjajahan itu tidak benar.”tegas kiai asep.
Untuk memperkuat pesannya, beliau menceritakan perjuangan Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kiai asep mengisahkan bagaimana para ulama dan santri NU berjuang mengangkat senjata dan meyatukan tekad melalui resolusi jihad mempertahankan kemerdekaan dan tidak takut mati menghadapi musuh.
Doa Syahdu Dari Al-Azhar
Puncak kesakralan acara terjadi di penghujung majelis. Suasana berubah menjadi hening Ketika Syeikh Al-Azhar Ahmad Muhammad Mabruk, memimpin doa.
Ribuan santri, masyaikh, dan masyarakat menundukkan kepala, mengaminkan untaian doa yang dilantunkan oleh beliau. Doa dipanjatkan khusus untuk almarhum kh. Koko komarudin Ruhiat, serta keberkahan bagi pondok pesantren yang akan memasuki satu abad.
Momen doa Bersama yang dipimpin oleh syeikh al-azhar ini menjadi penutup sempurna memadukan peluncuran cipasung rumah pangan bersemangat santripreuner, semangat perjuangan NU, dan keberkahan spiritual dari Al-Azhar.
Ribuan jamaah serentak melantunkan shalawat dengan penuh semangat, mengiringi Langkah Syeikh Al-Azhar, wakil ketua badan gizi nasional, keluarga besar, dan masyaikh meninggalkan aula. Wajah-wajah para santri tampak berseri, siap melangkah satu abad pesantren cipasung dengan semangat baru.
