Haul ke-3 Drs. KH. A Bunyamin Ruhiat M.Si: Spirit Keteladanan Sang Bapak Pembangunan dan Ke-NU-an

Acara puncak peringatan haul ke-3 Almarhum Almaghfurlah Drs. KH. A Bunyamin Ruhiat M.Si digelar dengan khidmat di Mesjid jami Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Rabu (19/11/) malam.

Ribuan Santri, Alumni, Masyaikh, dan Masyarakat umum memadati kompleks pesantren, gema tahlil, khataman Qur’an, dan doa dilantukan menjadi bukti nyata cinta yang tak terputus kepada sosok ulama yang dikenal sebagai “Bapak Pembangunan”.

Suasana semakin hidup dan penuh semangat ketika ulama kharismatik KH. Aceng Abdul Mujib, M.Ag (Ceng Mujib) yang merupakan ketua MUI kabupaten Garut dan Pimpinan Pondok Pesantren Fauzan ditunjuk untuk menyampaikan Mauidzhoh Hasanah menggantikan KH. Said Aqil Siradj (Mantan ketum PBNU 2010-2021) karena adanya halangan.

Wasiat Bapak: “NU Sa Modarna”

Dalam Mauidzoh hasanahnya, Ceng Mujib tidak hanya memberikan nasihat secara formal, ia mengajak para jama’ah untuk mengenang kembali gaya berbicara almarhum K.H. A Bunyamin Ruhiat yang dikenal dekat, kadang bersikap sarkastis, namun mengandung makna yang dalam.

Ceng Mujib berbagi pengalaman saat almarhum mengamanahkan pesan penting kepadanya tentang masa depan cipasung. Dengan menirukan logat khas bapak, ceng mujib mengutip kalimat:

Ceng, santri cipasung mah kudu diperkuat ku aceng. Pokokna mah kudu dipekuat NU sa modarna!.”

Sontak, ribuan jama’ah menunjukkan senyuman penuh haru saat mendengar istilah “sa modarna”. Dalam budaya sunda, kata tersebut terdengar seperti lelucon yang ‘kasar’, namun mencerminkan hubungan emosional yang dekat. Frasa “sa modarna” adalah lelucon, namun arti dibaliknya sangat penting. yaitu sebagai pengingat yang jelas bahwa santri cipasung harus tetap berada dalam jalur perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dan harus berhati-hati terhadap ancaman dari aliran-aliran yang kaku dan cenderung mudah meyesatkan kelompok lain.

Jejak Cinta Ilmu dan Pembangunan

Julukan “Bapak Pembangunan” yang melekat pada diri almarhum bukanlah tanpa sebab. Dalam pembacaan riwayat singkat yang dibacakan oleh KH. Agus Saiful Bahri, terungkap betapa besar dedikasi fisik dan pikiran almarhum terhadap pembangunan pesantren. Semasa hidup, beliau membangun Asrama putra dan putri, membangun sekolah, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya di lingkungan pesantren dan sekolah.

 Selain pembangunan, KH. Agus Saiful Bahri menegaskan kecintaan beliau terhadap ilmu. “Sedari kecil KH. A Bunyamin Ruhiat merupakan sosok yang sangat mencintai ilmu. Sehingga masa muda KH. A Bunyamin Ruhiat dihabiskan untuk belajar. Pendidikan beliau diperoleh baik secara formal dan nonformal.” Ujarnya.

Peringatan Tegas: Jangan Alasan Sibuk

Suasana hening dan emosional saat ketua Keluarga Alumni Cipasung (KAC), K.H. Ahmad Ruhyat Hasby, selain memberikan apresiasi kepada keluarga almarhum, beliau juga menyampaikan wanti-wanti (peringatan tegas) kepada seluruh alumni dan jama’ah yang hadir mengenai pentingya mengutamakan guru.

K.H. Ahmad Ruhyat Hasby mengingatkan para alumni santri agar tidak membiarkan urusan duniawi menghalangi untuk berbakti kepada guru yang telah wafat. “Bahwa kehadiran kita disaat guru kita membutuhkan doa, itu harus kita utamakan.” Tegas K.H. Ahmad Ruhyat Hasby.

Beliau melanjutkan dengan pesan yang meyentuh hati jama’ah, “Tidak boleh kita berpikir ketida ada undangan haul; ‘hadeuh eweuh ongkosna’ (aduh tidak ada ongkosnya), ‘hadeuh sibuk digawe’ (aduh sibuk bekerja). Karena K.H. A Bunyamin Ruhiat dulu tidak pernah merasa capek dan tidak pernah lelah. Walaupun sakit, beliau tetap mengajar.”

Pesan ini mengingatkan kita akan dedikasi penuh sang guru sepanjang hidupnya, yang tidak pernah menjadikan rasa sakit atau lelah sebagai alasan untuk berhenti mendidik santri.

Esensi Kegiatan: Mengingat dan Meneladani

Semangat pengabdian juga diimplementasikan oleh panitia melalui serangkaian kegiatan acara pra-haul yang dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 18 November 2025. Kegiatan ini mencakup Perlombaan Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) Diktat jurumiyah, Paduan Suara santri dan masyarakat, Melukis sketsa wajah almarhum, dan lomba cipta puisi.

Ketua Panitia Pelaksana Pra-haul, Hj. Ina Muthmainah, S.Pd, M.Si. menjelaskan bahwa semua rangkaian kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat mulia.

“Acara ini tak lain sebagai bentuk kegiatan yang mana mengenang, mendoakan, dan mengambil suri tauladan dari beliau.” Ujarnya.

Menurutnya, mengenang tidak sekadar mengingat nama, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan almarhum melalui perlombaan dan seni.

Acara puncak diakhiri dengan doa. Ribuan jema’ah meninggalkan tempat dengan membawa semangat baru: berpegang pada pesan almarhum untuk mrnjadi kader NU “sa modarna”, serta menjaga loyalitas tanpa syarat kepada sang guru.

Penulis : Fiqri Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *